3

Cerpen Anak

Kacamata Untuk Ayah

Kacamata Untuk Ayah

Prang… kulempar celengan babi ke lantai. Bunyi gemerincing logam beradu dengan gesekan uang kertas. Semuanya terlempar dan bertebaran di lantai. Sesaat aku menatap uang logam yang berputar-putar sebelum kemudian berhenti di dekat kakiku. Kukuatkan kembali niatku. “Kau sudah mengambil keputusan yang tepat”, hatiku berbisik lembut. Aku tahu itu benar karena detik berikutnya, kakiku mulai bergerak mendekati uang yang berserakan di lantai. Aku menunduk dan mulai memunguti uang yang telah setahun ini kusisihkan.

Namaku Reza, umurku 10 tahun. Saat ini aku duduk di kelas 4. Aku adalah anak tunggal di keluarga. Ayahku bekerja sebagai sopir angkot. Ia menarik angkot Bang Togar, Juragan angkot di Kampung Tegalsari. Bang Togar memiliki puluhan angkot. Ia mempekerjakan banyak sopir termasuk ayahku. Setiap hari Ayah harus berkeliling mencari penumpang supaya ia dapat menyetor sebesar 100 ribu pada Bang Togar. Jika penghasilannya lebih dari 100 ribu maka sisa uang itu boleh Ayah miliki. Namun tidak setiap hari, angkot Ayah penuh penumpang. Ada banyak hari-hari ketika Ayah kekurangan uang untuk menutupi setorannya. Untuk membantu memenuhi kebutuhan di rumah inilah maka Ibu membuat kue dan menitipkannya di warung-warung sekitar rumah. Begitulah kehidupan yang orangtuaku jalani. Lalu bagaimana denganku? Hmm..meskipun aku adalah anak tunggal namun aku tidak manja loh. Aku ikut membantu pekerjaan di rumah, memang sih tidak terlalu banyak yang kukerjakan karena aku kan mesti sekolah. Dan ada juga kegiatan rutin yang kuikuti setiap dua kali dalam seminggu yaitu bermain badminton.

Aku sangat menyukai olah raga yang satu ini. Aku mengikuti setiap berita pertandingan dan berita para atlet bulu tangkis Indonesia. Aku juga suka menonton video pertandingan badminton bersama Om Thomas, adik Ibu. Atlet favoritku adalah Lim Swie King dan Haryanto Arbi, jagoan jumping smash Indonesia.

Nah, bicara tentang bulu tangkis, aku telah terdaftar sebagai anggota klub bulu tangkis di kotaku. Kami berlatih setiap hari Selasa dan Kamis, mulai jam 4 – 6 sore. Pak Anton Halim adalah pelatihnya. Aku sangat senang bergabung di klub ini.

Suatu ketika aku mencoba melakukan jumping smash seperti video yang kuingat semalam. Aku membayangkan menjadi Lim Swie King. Wah, gayaku benar-benar hebat. Seperti atlet professional saja. Shuttlecock menukik tajam ke daerah lawan dan tidak mampu ditangkis oleh raket Henry. Semua teman-teman bertepuk tangan. Aku sangat senang dan melompat-lompat tetapi oh…raketku terlempar. Aku pun langsung mengambilnya, tapi kemudian aku melihatnya, gagang raket itu patah. Aku sangat sedih karena itu adalah raket satu-satunya milikku, hadiah ulang tahun, empat tahun yang lalu, dari Ayah. Teman-temanku yang semula bersorak untukku datang merubungiku. Mereka semua melihat apa yang terjadi pada raketku. Semua menepuk-nepuk bahuku menunjukkan rasa kasihan dan simpati padaku. Aku menundukkan kepala dengan sedih. Tiba-tiba Henry menyodorkan raketnya padaku dan berkata “Jangan bersedih, aku akan meminjamkan raket ini padamu, kita bisa bermain bergantian”. Aku menatap Henry. Ia memang sahabatku yang paling setia. Beberapa temanku yang lain juga memberi dukungan padaku. Mereka berjanji untuk meminjamkan raket mereka padaku. Jadilah sampai saat ini aku bermain bulu tangkis dengan meminjam raket mereka.

***

“Jadi raketnya patah?” tanya Ayah padaku. Aku baru saja menceritakan kejadian yang kualami sewaktu bermain bulu tangkis. “Apa tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyambung raket kembali”, kata Ayah lagi. Aku menundukkan kepla, menyembunyikan mataku yang sudah berkaca-kaca. “Sayang sekali, Ayah sedang tidak mempunyai uang untuk membelikan yang baru”, kata Ayah sambil mengelus rambutku. Aku mengangguk. Tentu saja aku tahu, di saat sepi penumpang seperti ini, mana tega aku meminta Ayah membelikan raket baru. Aku cuma terdiam dan menatap keluar jendela mobil. “Mungkin ada jalan untuk membeli raket”, kata Ayah. Aku pun menoleh kembali padanya. “Mengapa kau tidak membelinya dari uang jajanmu. Coba kau hitung berapa yang dapat kaukumpulkan dari uang jajanmu setiap hari. Kalau kamu rajin menabung lama-kelamaan uang untuk membeli raket baru akan terkumpul”. Kata-kata Ayah memberi harapan bagiku untuk memiliki raket kembali. Maka sejak saat itu, aku jadi rajin menabung untuk membeli raket impianku.

***

Setahun telah berlalu sejak kejadian itu. Uang tabunganku sudah semakin banyak. Aku sangat senang karena menurut hitunganku uangnya sudah cukup untuk membeli raket yang baru. Namun teman-teman, ada kalanya apa yang sudah kita rencanakan dengan matang ternyata tidak terjadi seperti yang kita harapkan. Ya, itulah yang terjadi padaku.

***

Hari ini, Ayah menjemputku pulang dari menonton pertandingan badminton karena gedung olah raga di kota ini memang dilewati rute angkot yang ayah lalui. Ayah nampak tenang menyetir sambil memperhatikan jalan yang mulai berkelok. Sore ini kabut turun dengan cepat ditambah hujan mulai rintik-rintik membuat jarak pandang hanya beberapa meter saja. Ayah mengelap kaca di depannya berkali-kali dan menurunkan kecepatan mengemudi. Penumpang mulai gelisah karena guntur yang bersahut-sahutan. Semua pasti ingin cepat sampai di rumah, begitu juga aku, namun sepertinya Ayah tidak menyadari hal itu karena ia malah menyetir dengan perlahan. Aku melirik ke belakang, seorang ibu mulai mengomel dan melotot ke arah Ayah, aku cepet-cepat berbalik kembali ke depan. “Sttt..Ayah, lebih cepat menyetirnya”, aku berbisik lirih namun sepertinya Ayah tidak mendengar, ia malah sibuk mengelap kaca dan akhirnya ia menghentikan angkot. Terdengar suara bergemuruh dan hujan mulai turun dengan deras. Semua penumpang menjadi takut. “Mogak, Pak?” seru pria yang duduk di bangku paling ujung. “Bilang, dong dari tadi. Kami kan ga perlu naik angkot bobrok kayak gini!” penumpang lain menyahuti. “Maaf, non. Maaf, Bapak/Ibu. Bukannya mogok tapi jarak pandang mata saya tidak bisa melihat jelas lagi. Saya khawatir akan ada kecelakaan jika saya lanjutkan”. Ya, penglihatan Ayah memang cukup mengkhawatirkan kini. Belakangan ini Ayah sering mengeluh mengenai matanya. Ayah tidak bisa melihat dengan jelas baik pada jarak dekat maupun jarak jauh. Tulisan rambu lalu lintas pun kini tidak lagi jelas terlihat. Untungnya sudah lebih dari 10 tahun Ayah membawa angkot dan sudah hafal rutenya. Jadi kukira Ayah tidak mengalami kesulitan dengan pekerjaannya. Namun sekarang aku malahan memikirkan mata Ayah. Kemudian terdengar suara-suara menggerutu di belakang. Mereka mulai menggerutu. “Wah, kalo ga kelihatan, ya pake kaca mata toh, Pak” seorang Ibu menyahuti. “Sudah rabun kok masih berani nyetir!” sindir seorang pemuda sehingga menambah suasana yang makin panas. Aku merapatkan tubuhku lebih dalam, takut dan gelisah. Saat itu aku hanya menunduk diam dan tidak berani menoleh ke arah Ayah apalagi untuk membela Ayah. Aku merasa sangat payah dan tidak berguna. “Maafkan aku, Ayah”, aku berbisik dalam hati. Kemudian aku mendengar suara yang nampak tenang di tengah situasi ini. “Saya akan bertanggung jawab mengantar Bapak dan Ibu sampai di tujuan. Bisa kita menunggu selama 10 menit. Jika hujan sedikit reda, saya akan menyetir kembali.” Itu suara Ayah.

***

Cittt…brak… Tiba-tiba terdengar dentuman keras tidak jauh dari angkot ini berhenti. Semua penumpang langsung menoleh, mencari-cari apa yang telah terjadi. “Kecelakaan!” teriak seorang Ibu. Ayah segera membuka pintu dan berlari keluar. Beberapa penumpang pria juga ikut ke luar. Mereka berlarian membantu para korban kecelakaan di tengah derasnya hujan.

***

Hujan pun mulai reda. Mobil ambulance dan polisi sudah ada di sana untuk membawa para korban kecelakaan. Semua penumpang sudah kembali masuk ke dalam angkot begitu juga dengan Ayah yang sudah menyalahkan mesin mobil. Sebelum angkot bergerak, aku menoleh pada Ayah dan Ayah pun tersenyum padaku. Tanpa kata-kata aku menyampaikan pada Ayah bahwa Aku sangat bangga padanya. Namun kejadian hari ini membuatku khawatir pada Ayah. Kejadian ini bukan tidak mungkin akan terulang kembali jika penglihatan Ayah semakin memburuk.

***

Teman-teman, seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa kadang kala impian tidak bisa menjadi kenyataan. Apa yang telah kita rencanakan, belum tentu terwujud seperti yang kita harapkan. Rencana Tuhan bukanlah rencana manusia. Rancangan Tuhan bukanlah rancangan manusia. Akhirnya aku menyadari apa maksud kutipan kalimat ini.

***

Beberapa hari kemudian…

“Reza, kata Ibu, kamu mau ke pasar. Bagaimana kalau ikut Ayah saja. Kebetulan Ayah juga akan menarik angkot. Nanti Ayah turunkan kamu di pintu gerbang pasar modern”, kata Ayah sambil meletakkan gelas kopi di tempat cuci piring. “Ya, Ayah”, Aku mengangguk padanya lalu kuambil gelas kopi tersebut untuk aku cuci bersama piring dan gelas bekas sarapanku. Mencuci peralatan bekas kami sarapan adalah pekerjaanku setiap kami selesai sarapan. Sebenarnya Ayah dan Ibu tidak pernah menyuruhku mencuci setiap pagi tapi rasanya malu pada mereka kalau aku tidak mengerjakan apa pun di rumah, sementara ayah sudah bekerja keras menjadi supir angkot setiap hari dan ibu harus membantu keuangan keluarga dengan membuat kue. Karena itu, aku memutuskan untuk membantu sedikit pekerjaan di rumah, yaitu mencuci piring.

Setelah selesai mencuci piring, aku segera berlari ke kamar dan mengambil tas. Kutepuk tas itu hingga terdengar suara gemerincing. Dengan langkah pasti kuayunkan kakiku ke halaman rumah dimana Ayah sudah menungguku di balik kemudi angkot.

“Kita pergi sekarang ?” kata Ayah begitu aku duduk di sebelahnya. Sambil memicingkan matanya, ia menggeser letak kaca spion, mencari posisi yang paling tepat bagi matanya yang telah menurun kemampuan penglihatannya itu. Ayah lalu menoleh padaku dan terkekeh. Kerut di keningnya semakin terlihat jelas namun semangatnya tidak pernah kendur. “Kau pasti tidak sabar lagi ingin memiliki raket badminton yah. Tidak sia-sia kau bersabar karena akhirnya kau bisa memiliki raket sendiri. Kesabaran memang membawa hasil yang baik yah”, kata Ayah sambil mengelus rambutku. Ayah lalu memutar kunci mobil. Mesin angkot mulai berbunyi, sedikit nyaring karena memang mesin tua, usianya sudah hampir seumurku. Dan tidak lama kemudian, angkot pun mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.

Ayah menurunkanku tepat di depan gerbang masuk pasar. Setelah berpamitan, aku langsung melangkahkan kakiku memasuki gedung pasar ber-AC yang mulai ramai oleh para pembeli. Maklum hari ini adalah hari Sabtu dan sebagian orang tidak berangkat sekolah atau bekerja. Setelah menyusuri bagian sayur, buah dan daging, aku menuju pertokoan. Toko kaca mata ada di belokan lorong pertokoan. Namun sebelum aku membelok, tepat di sebelah kanan aku melirik toko yang menjual peralatan olah raga. Sebuah raket badminton yang telah lama kuimpikan, tergantung di atas kaca etalase. Kukeraskan tekadku kembali. “Aku pasti akan memilikinya nanti. Raket sayang, aku pasti akan membelimu. Tunggu aku setahun lagi”, aku bergumam. Kulangkahkan kaki lebih panjang agar dapat lebih cepat menuju ke took kaca mata sebelum pikiranku kembali berubah. Akhirnya sampai juga aku di took itu. Seorang pegawai wanita menyambutku dengan ramah. Wanita itu menanyakan tujuan kedatanganku dan apa yang kucari. Kukatakan padanya bahwa aku mencari kaca mata untuk ayah. Kurogoh tasku dan kukeluarkan amplop yang berisi uang tabungannku. “Ada 160 ribu. Pilihkan yang terbaik dan harga yang cocok.” Kataku mantap. Wanita itu sesaat terpana menatapku namun akhirnya dia memahami maksudku. Ia berjalan ke sisi etalase dimana terdapat berpuluh-puluh kaca mata yang dipajang. Setelah beberapa saat ia memilih, ia memanggilku dengan sebuah kaca mata di tangannya. Diangsurkannya kaca mata itu padaku. Aku pun meraihnya dan menatap kaca mata berbingkai hitam di tanganku. Lensanya berbentuk persegi. Tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Ukurannya tidak terlalu tebal. Dan bentuknya nampak sederhana namun terlihat gagah seperti halnya Ayah. Kubayangkan wajah Ayah yang memakai kaca mata ini. Dalam bayanganku, Ayah nampak gagah dan berwibawa namun yang terpenting, Ayah tidak lagi memicingkan matanya, ia melihatku dengan matanya yang bersinar terang. Dan sebelum aku larut dalam khayalanku, wanita itu menepuk pundakku sehingga aku kembali tersadar dari lamunanku. “Apa kau memiliki ukuran lensanya? Silinder, positif atau negatif ?” Aku melongo mendengarnya dan cuma bisa menggelengkan kepala. “Apa ayahmu tidak ikut?” wanita itu kembali bertanya. Aku kembali menggeleng “Ayah belum tahu hal ini. Aku ingin memberinya hadiah kaca mata”. Wanita itu nampak berpikir lebih lama. Ia mulai menanyaiku seperti apa kondisi mata Ayah. Apakah Ayah tidak dapat melihat benda dengan jelas pada jarak yang jauh atau yang dekat atau keduanya. Setelah aku menjelaskan keadaan Ayah, sepertinya wanita itu mulai menganggukkan kepalanya. Ia memintaku menunggu dan setengah jam kemudian, ia memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Ia membuka kotak tersebut dan tampaklah di dalamnya kaca mata berbingkai hitam yang tadi kulihat. “Jika Ayahmu belum merasa enak dengan kaca mata ini, ajaklah beliau kembali ke sini. Aku akan menukarnya dengan ukuran lensa yang tepat”, kata wanita itu sambil menyerahkan kotak kaca mata padaku. Dengan jantung berdegup, aku menatap kotak tersebut.Dan sebelum aku bisa memalingkan mataku dari kotak kaca mata itu, wanita itu kembali memanggiku. “Uangmu masih ada sisanya. Harganya 150 ribu. Ambilah uang 10 ribu ini untukmu”, wanita itu menyerahkan uang kembalian padaku. Aku terpana mendengarnya. Pipiku memerah, ternyata masih ada sisa uang yang bisa kumiliki. Aku menganggukan kepalaku. Kuucapkan terima kasih padanya. Sambil menggenggam kotak kaca mata, aku meninggalkan toko tersebut dengan hati yang penuh suka cita.

***

Ketika aku keluar dari pasar, kulihat gerobak berwarna merah muda di pinggir jalan. Aku mengenali penjualnya yang berwajah Persia. Orang itu menjual Roti Kane, roti khas India. Tiba-tiba saja, terbayang wajah Ibu di benakku. Ibu yang sangat suka menonton film India. Impiannya adalah pergi ke India dan bertemu dengan bintang idolanya, Sharuk Khan. Hatiku kembali mengembang. Uang kembalian 10 ribu masih kugenggam di tanganku. Aku tahu, aku harus mengambil keputusan ini. Maka kulangkahkan kaki menuju gerobak penjual Roti Kane. Meskipun Ibu belum bisa ke India, setidaknya Ibu dapat merasakan penganan India. Aku tersenyum. “Suatu saat aku pasti akan membawa Ibu ke India”, aku berbisik dan memanjatkan doa pada Tuhan.

***

Kami baru saja menyelesaikan makan malam. Ayah dan Ibu masih menghabiskan Roti Cane yang tadi kubeli di pasar. Perlahan aku merogoh kantung celanaku dan kukeluarkan kotak hitam dari sana. Kemudian kusodorkan kotak hitam itu pada Ayah sambil berkata “Ini untuk Ayah”. Ayah masih memandangiku lalu menatap pada Ibu. Ibu pun nampak kebingungan namun ia menganggukan kepalanya hingga Ayah pun mengambil kotak hitam itu lalu membukanya. Tampaklah kaca mata berbingkai hitam. Aku mendekati Ayah dan memeluknya. “Kaca mata ini untuk Ayah. Aku tidak jadi membeli raket jadi uangnya kubelikan kaca mata dan masih ada sedikit sisanya. Kubelikan Roti Cane untuk Ibu supaya Ibu bisa merasakan makanan khas orang India.” Ayah terdiam, tidak bisa berkata-kata. Matanya basah dan meneteslah air matanya.  Ayah bukanlah pria yang cengeng, pasti Ayah sangat sedih hingga Ayah tidak bisa menahannya. Ayah memelukku sangat erat. Diciumnya kepalaku tak henti-hentinya. “Kau anakku yang sangat baik. Terima kasih atas hadiahmu yang sangat indah ini.” Tidak terasa air mataku ikut menetes di pipiku. Hatiku terasa hangat dan damai. Seperti inilah rasanya kebahagian itu. AKu memeluk membalas pelukan hangat Ayah. Ibu ikut mendatangi kami. Kami pun berpelukan dengan hangat.

“Apa kau tidak kecewa, tidak bisa memiliki raket badminton impianmu itu?” Ayah bertanya padaku beberapa saat kemudian. Aku terdiam sebentar lalu menggelengkan kepalaku. “Ayah lebih membutuhkan kaca mata ini. Aku bisa menunggu setahun lagi untuk mendapatkan raket impianku. Bukankah Ayah selalu bilang, kesabaran akan mendatangkan hasil yang baik. Aku akan menunggu beberapa waktu lagi, hitung-hitung menguji kesabaranku. Sambil menunggu nanti aku akan mencari cara mengumpulkan kembali tabungan, siapa tahu aku tidak perlu menunggu waktu satu tahun untuk bisa membeli raket. “Seperti kata pepatah, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Bersusuah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Siapa yang bersabar, ia pasti akan berhasil”, Ibu ikut menimpaliku. “Reza, Sayang. Ucapanmu itu mungkin saja ada benarnya. Kau tahu, Sayang, tadi Om Thomas datang ke rumah. Ia mencari orang yang dapat mencuci mobilnya. Jika kamu bersedia membantunya, Om Thomas akan menawarimu raket bekas kesayangannya.  Kamu hanya perlu mencuci mobil sekaligus mencicil pembayaran raket padanya. Kamu mungkin bisa mendapatkan raket dengan harga murah. Kalau kau setuju, segera hubungi dia”. Tanpa menunggu lagi, aku segera melesat menuju telepon. “Tuhan memang selalu bekerja dengan caranya. Syukurlah aku telah melakukan keputusan yang tepat. Terima kasih atas penyertaanMu dalam hidupku…Amin.”, aku memanjatkan doa padaNya.

TAMAT

Sahabat keciku, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita. Ia tahu apa yang kita butuhkan, kapan kita membutuhkannya dan siapa orang yang akan membantu kita. Dan Ia akan memberikan kepada kita pada waktunya karena Ia adalah Tuhan Yang Maha Tahu. Karena itu jangan pernah kehilangan harapan yah.

0

Berbagi Cerita

AA050301

Halaman ini memuat koleksi cerita anak orisinil yang saya buat sendiri. Jika Anda menginginkan cerita ini, tulislah pada komentar di bawah halaman ini maka saya akan memberikannya kepada anda secara gratis. Namun jangan lupa sertakan juga nama saya di setiap karya saya yang Anda publikasikan.

Dan akhirnya, terima kasih telah menghargai karya saya..

1

Halo apa kabar …?

Halo..apa kabar ?

Salam kenal semuanya…

Blog ini menyediakan kumpulan cerita anak-anak. 

Melalui blog ini, Aku ingin berbagi cerita kepada anak-anak di seluruh dunia. 

Masa anak-anak cukup merepotkan apalagi jika orangtua kita sulit untuk kita temui. Kalau kuingat kembali rasanya sulit untuk melalui masa itu. Untungnya orang tuaku memberikan banyak buku-buku bacaan.

Dan lewat buku-buku inilah aku memulai petualanganku. Aku bertemu dengan Singa, Ayam dan Monyet, juga Peri cantik dan Putri yang manis, Pangeran tampan, Raja dan Ratu, Para pencuri dan bajak laut, Pak Petani dan Pemburu, serta anak-anak dari belahan dunia yang lain.

Buku-buku itu sangat luar biasa dan telah membuat hidup yang kulewati tidak menjadi biasa-biasa saja. Duniaku menjadi sangat menakjubkan. Untuk itulah maka aku ingin menuturkan cerita kepada semua anak. Aku menuliskan cerita-cerita yang sarat dengan makna dan nilai-nilai hidup yang mungkin bisa membantumu melewati masa-masa sulit.

Anak-anak yang kusayangi, nikmati masa kanak-kanakmu dengan gembira. Bacalah cerita-cerita ini atau mintalah orang dewasa di sekitarmu untuk membacakan cerita ini dan mulailah petualanganmu sendiri. Bermimpilah dan berimajinasilah dengan bebas. Biarkan khayalanmu melayang jauh melintasi cakrawala. Petiklah nilai-nilai kehidupan disana dan jadikan bekal untuk melewati hari-harimu. Teruslah bersemangat dan jangan menyesali detik demi detik yang kaulalui hari ini. Songsonglah hari depan dengan senyum terbaikmu.

Bagi siapa pun yang menyukai cerita dalam blog ini, ceritakanlah kepada anak-anakmu dan biarkan anak-anak pun mendapatkan petualangannya dari cerita-cerita ini.

Akhirnya, selamat membaca dan …Save Our Children.